Larangan Penggunaan Kantong Plastik: Apakah Sudah Tepat?

Larangan Penggunaan Kantong Plastik: Apakah Sudah Tepat?

Tidak dapat dipungkiri limbah atau sampah plastik merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang dialami oleh Indonesia. Bahkan, menurut data yang disajikan oleh Our World in Data, Indonesia menempati urutan kedua, setelah Cina, sebagai negara dengan total sampah plastik mal-kelola (total mismanaged plastic waste) terbesar di dunia.

Berbagai upaya dari berbagai kalangan telah dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut, dan penerapan peraturan pembatasan penggunaan kantong plastik menjadi salah satunya. Terhitung sampai dengan Januari 2021, telah terdapat 41 daerah, 39 kota dan 2 provinsi, yang menerapkan peraturan pembatasan penggunaan kantong plastik.

Peraturan ini diberlakukan atas tujuan mengurangi volume sampah plastik yang dapat mencemari lingkungan. Namun terlepas dari intensi baik tersebut, terdapat beberapa konsekuensi yang tidak diinginkan dari penerapan peraturan pelarangan kantong plastik yang perlu dipertimbangkan. Menurut David D. Sussman, Visiting Scholar di the Global Development and Environment Institute (GDAE) Tufts University, terdapat tiga potensi kemunculan dampak yang tidak diinginkan dari diterapkannya larangan penggunaan kantong plastik.

1. Kantong plastik bukan sumber utama polusi plastik

Penggunaan plastik sekali pakai mencapai 150 juta ton setiap tahunnya. Jika dicari rata-ratanya, setiap orang berarti mengonsumsi 19.23 Kg plastik sekali pakai seperti botol, alat makan, sedotan, dan kemasan plastik setiap tahunnya.

Namun, sebuah riset menemukan bahwa sampah kantong plastik hanya merupakan sebagian kecil dari limbah plastik di perairan Jakarta, tepatnya sekitar 8.5% dari total berat limbah.

2. Konsumen berpindah menuju material yang lebih merugikan

Berdasarkan kasus-kasus penerapannya di berbagai daerah, dapat dibuktikan pelarangan kantong plastik cukup efektif dalam menekan penggunaan kantong plastik. Namun, terkadang hal tersebut justru akan merugikan jikalau konsumen malah mensubtitusi kantong plastik dengan kantong berbahan dasar material lain yang lebih membahayakan lingkungan.

Kantong belanja yang terbuat dari kertas membutuhkan 400% energi yang lebih besar dalam pembuatannya, dibandingkan dengan pembuatan kantong plastik. Belum lagi pertimbangan mengenai penebangan pohon untuk bahan baku, dan penggunaan zat kimia berbahaya dalam proses produksinya.

Alternaitif lainnya seperti kapas pun tidak lebih baik. Menanam kapas membutuhkan lahan yang luas, air dengan kuantitas yang sangat besar, pupuk kimia, dan pestisida yang berbahaya bagi lingkungan.

Kantong plastik yang terbuat dari material tak terbarukan seperti minyak bumi memang dapat menyebabkan polusi dan limbah di daratan maupun perarian. Namun skala akibat yang akan ditimbulkan terhadap perubahan iklim tidak akan sebesar kantong belanja berbahan dasar material lainnya.

Pada akhirnya, pertimbangan mengenai tipe kantong belanja dan dampaknya yang ditimbulkan bagi lingkungan harus diprioritaskan.

3. Konsumen yang tidak menggunakan kantong plastik dapat menimbulkan kerugian pada aspek lain

Telah dilakukan riset psikologis dengan mengobservasi orang yang seringkali justru merugikan lingkungan pada saat mereka mencoba untuk ‘menyelamatkan’ lingkungan. Sebagai contoh, mereka yang tidak mengonsumsi produk hewani, mungkin akan memilki tendensi untuk membeli produk berlabel ‘ramah-lingkungan’ dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Dengan begitu, dampak lingkungan yang dihasilkan akan sama buruknya. Atau mereka yang berjalan kaki atau bersepeda menuju restoran, merasa berhak untuk memesan menu daging lebih banyak.

Perilaku tersebut dikenal dengan istilah ‘compensatory behavior’. Sebagaimana dengan contoh di atas, mereduksi penggunaan kantong plastik dapat memberikan semacam afirmasi mental untuk melakukan aksi yang merugikan bagi lingkungan.

Beberapa poin di atas merupakan konsekuensi yang patut dipertimbangkan lebih lanjut dalam menerapkan pelarangan penggunaan kantong plastik. Sebagai upaya alternatif, menerapkan sikap lebih bijak dalam menggunakan kantong plastik juga merupakan salah satu cara yang efektif. Sebisa mungkin gunakanlah kantong plastik belanja Anda berulang kali. Dengan begitu, jumlah limbah plastik akan berkurang bekali lipat.

Jelajahi website kami untuk menemukan berbagi informasi menarik terkait plastik lainnya. Bagi pebisnis plastik, Anda juga bisa mencari berbagai kebutuhan bahan baku plastik Anda di Tokoplas, termasuk biji plastik daur ulang.

Temukan resin/biji plastik sesuai kebutuhan Anda hanya di Tokoplas!

© 2021 Tokoplas. All rights reserved